Kamis, 13 Juni 2013

Sejarah Peh Cun di Tangerang - Provinsi Banten


Kronologi Peh Cun di Tangerang
Pada tahun 1900 Kapitan Oey Giok Koen menyumbangkan kepada Kelenteng Boen San Bio sepasang Perahu Naga, yaitu Naga Kuning dan Naga Merah. Tuan Tanah Kedaung juga turut menyumbangkan Perahu Papak Merah kepada Kelenteng Boen San Bio. Peristiwa ini terjadi ketika Kapitan Oey Giok Koen naik delman (kereta kuda) dan pada saat lewat di depan Kelenteng Boen San Bio ‘as’ kereta yang ditumpanginya patah, kemudian Kapitan Oey Giok Koen bersembahyang di Kelenteng Boen San Bio dan berjanji bila ia mempunyai anak laki-laki akan membuatkan sepasang Perahu Naga untuk Kelenteng Boen San Bio.
Lomba Perahu (Peh cun) di sungai Cisadane Kota Tangerang
Koleksi Foto Milik : Tan Sudemi

Kapitan Oey Giok Koen adalah salah satu pendiri Pendidikan Tionghoa Hwe Koan. Sekitar tahun 2008, komplek pemakaman Kapitan Oey Giok Koen bertempat di Priuk – Sangiang Kota Tangerang, dibongkar karena komplek pemakaman Kapitan Oey Giok Koen dijual oleh keturunannya dan sekarang menjadi perumahan Global Mansion, dikomplek ini yang hanya tersisa adalah sebuah kolam besar dan sangat disayangkan sebagian masyarakat Tionghoa Benteng kurang menaruh perhatian terhadap situs bersejarah yang menjadi jejak sejarah kerberadaan masyarakat Tionghoa di Tangerang. Di komplek pemakaman ini dapat diketemukan sejumlah relief maupun ukiran yang telah berusia ratusan tahun.


Makam Kapitan Oey Giok Koen di Priuk - Sangiang Kota Tangerang
Koleksi Foto Milik : Tan Sudemi

Relief di Komplek Makam Kapitan Oey Giok Koen
Koleksi Foto Milik : Tan Sudemi


Ukiran Kilin di Komplek Makam Kapitan Oey Giok Koen
Koleksi Foto Milik : Tan Sudemi

Kapitan Oey Khe Tay membuat Perahu Papak Hijau pada tahun 1900 dan dua tahun kemudian yaitu tahun 1902, hartawan dan para dermawan dari tiga gang (jalan) di depan Kelenteng Boen Tek Bio, yaitu Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cilangkap) dan Gang Gula (Cirarab) membuat Perahu Papak Merah untuk disumbangkan kepada Kelenteng Boen Tek Bio.

Perayaan Peh cun sendiri di Tangerang diperkirakan mulai dilaksanakan sejak tahun 1910. Hal ini karena di Jakarta, sungai-sungai sudah menjadi dangkal sehingga perayaan Peh cun dipindahkan ke Tangerang. Dengan sungai Cisadanenya yang cukup luas, maka Tangerang memenuhi syarat untuk melaksanakan perayaan Peh cun.

Pada perayaan Peh cun tahun 1911, menurut cerita, pada saat perlombaan Perahu Papak Hijau dan Merah ada ‘getek’ (rakit) yang melintang, malang di tengah sungai, sehingga Perahu Papak Hijau melompat dan persis jatuh diatas getek yang melintang itu. Hal ini mengakibatkan Perahu Papak Hijau patah ditengah (patah pinggang).

Perahu Papak Hijau yang patah itu kemudian disimpan di tempat Bapak Lim Tiang Tiang di Karawaci dan dijadikan satu dengan keramat yang sudah ada. Pada tahun 1912 Perkumpulan Boen Tek Bio membuat Perahu Papak Merah yang baru dibawah pengawasan Bapak Lim Hok Tjiang selaku sekretaris Perkumpulan Boen Tek Bio.

Pada tahun 1938 ada juga Perayaan Peh cun yang dirayakan pada tanggal 7-8 bulan 5 penanggalan Imlek (Go Gwee Ce Cit – Ce Pe). Pada perayaan ini dibuatlah sepasang Perahu Naga oleh Bapak Lim Tiang Hoat di daerah Kedaung Barat. Namun pada tahun 1942 ketika Jepang datang ke Indonesia, Perahu Naga itu dibakar.

Perlu diketahui juga dimulainya Perayaan Peh cun di Tangerang ini dikoordinir oleh Perkumpulan Boen Tek Bio, namun sayang pada tahun 1964 Perayaan ini berakhir. Sekian tahun telah berlalu, kemudian Pemerintah Kota Tangerang mengangkat kembali tradisi Peh cun di Tangerang sejak tahun 2000 yang terus berlanjut hingga sekarang.

Kronologi Empe Peh cun
Diperkirakan pada tahun 1850 nenek buyut dari Bapak Rudi A.Kuhu mengambil sepotong kayu yang lewat di Sungai Cisadane, pada masa itu orang-orang masih memasak dengan menggunakan kayu bakar. Setelah beberapa hari kemudian, sewaktu potongan itu dijemur, nenek buyut Bapak Rudi A. Kuhu bermimpi bahwa potongan kayu tersebut minta untuk ‘dirawat’, sehingga dibuatkanlah sebuah gubug (rumah dari tiang bambu yang menggunakan atap rumbai) untuk menyimpan potongan kayu tersebut.
Pada tahun 1911, Perahu Papak Hijau yang patah ditengah dalam perlombaan Peh cun diletakkan pula di tempat keramat tersebut yang sekarang ini dikenal dengan sebutan Empe Peh cun.
Bio Empe Peh cun di Karawaci Kota Tangerang
Koleksi Foto Milik : Tan Sudemi


Peh cun di Kedaung Barat 
 Diperkirakan pada tahun 1938 atas usaha dari para penduduk di Kedaung Barat, Kampung Kelor yang dikepalai oleh mendiang Bapak Lim Tiang Hoat, telah membuat dua buah perahu Liong untuk turut merayakan Peh cun di tempatnya sendiri, dimulai dari tanggal 7-8 bulan 5 penanggalan Imlek (Go Gwee Ce Cit-Ce Pe). Meskipun keramaiannya tidak dapat dibandingkan dengan keramaian di Tangerang yang menjadi pusatnya, namun meraka telah menunjukkan bahwa di desa itu pun ada persatuan dan semangat Peh  cun. Namun sayang sekali, usaha itu tidak berjalan lama, karena pecahnya Perang Dunia Ke-II, dimana waktu itu terjadi kerusuhan yang mengakibatkan Sepasang Perahu Liong Peh cun di Kedaung Barat habis terbakar. Hal ini sungguh disayangkan.

Kamis, 04 Oktober 2012

Riwayat Prosesi 12 Tahunan Perkumpulan Boen Tek Bio

Penulis dan Juru Foto : Tan Sudemi
Perayaan arak-arakan yang untuk tahun 2012 adalah yang ke-14 kali jatuh pada hari Sabtu, 06 Oktober,  secara tradisional disebut Gotong Toa peh kong. Tradisi ini berawal pada tahun 1856 tahun Naga Tanah. Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan dibangun pada tahun 1684 baru dipugar untuk kedua kalinya, setelah pemugaran pertama tahun 1774. Selesai dipugar, kim-sin Yang Mulia dan Suci (YMS) Kwan Im Hud Couw, yang juga dikenal dan dimuliakan sebagai Guan Shi Yin. Pada waktu pemugaran disemayamkan sementara di Kelenteng Boen San Bio di Pasar Baru dan disambut kembali ke kelenteng yang selesai dipugar dengan arak-arakan yang sangat ramai. Sejak itulah  peristiwa tersebut menjadi tradisi yang diulang kembali setiap 12 tahun sekali, yakni setiap tahun Naga. Pada saat prosesi biasanya diiringi dengan berbagai atraksi seperti barongsay, liong, dan lain-lainnya. Kim sin yang diarak berkeliling kota Tangerang yaitu :

a. Yang Suci Kha Lam Ya dengan diiringkan payung warna merah
b. Yang Suci Kwan Tee Kun dengan diiringkan payung warna hijau
c. Yang Mulia dan Suci Kwan Im Hud Couw dengan diiringkan payung warna kuning

Guan Shi Yin Po Sat adalah terjemahan harfiah dari bahasa Sansekerta, Avalokitesvara, yang mempunyai arti sebagai berikut :


Guan    
artinya melihat atau merenungi


Shi         
artinya dunia, alamnya orang yang menderita


Yin         
 artinya segala suara dari dunia, jeritan atau ratapan dari  makhluk hidup, lahir maupun batin.

 Yang semuanya ini menyentuh lubuk hati Sang Dewi Welas Asih.


Po Sat  
artinya orang suci



Sebab itu Guan Shi Yin adalah Bodhisattva yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam hati setiap pemujanya. Mereka percaya bahwa Guan Shi Yin dapat mendengarkan keluh kesah mereka yang menderita dan datang menolong dengan wujud yang berbeda-beda.


Setiap tahun para pemuja Guan Shi Yin selalu memperingati hari-hari besarnya. Secara garis besar dalam satu tahun ada tiga hari besar untuk menghormati Dewi Kwan Im
1.       Tanggal 19 bulan 2 Imlek hari lahirnya
2.       Tanggal 19 bulan 6 Imlek, Guan Yin meninggalkan raganya
3.       Tanggal 19 bulan 9 Imlek, Guan Yin mencapai kesempurnaan

Mereka yang mempunyai kepercayaan kepada Dewi Kwan Im Hud Couw, telah seringkali memperoleh dan mengalami pertolongan-Nya. Banyak kisah tentang keajaiban Dewi Kwan Im di Kelenteng Boen Tek Bio, misalnya
1.       Pada tahun 1883, Gunung Krakatu meletus, sehingga terjadi banjir di Kota Tangerang, namun Kelenteng Boen Tek Bio tidak mengalami kebanjiran.
2.       Kira-kira pertengahan tahun 1887, diwaktu tengah malam air sungai Cisadane yang mengalir dari daerah Bogor ke Tangerang telah meluap dengan sangat hebat sekali, sehingga menggenangi sebagian besar kota Tangerang setinggi lebih dari 1 meter. Banyak sekali hewan ternak yang mati dan penduduk yang tidak berdaya melihat harta bendanya hanyut. Namun, sungguh ajaib, air tersebut mengalir ke sisi kiri dan kanan dari Kelenteng Boen Tek Bio, sehingga halaman luar maupun bagian dalam dari Kelenteng Boen Tek Bio tidak tergenang air. Penduduk Tangerang banyak yang berlindung di Kelenteng Boen Tek Bio pada saat peristiwa itu.
3.       Pada tahun 1942, Jepang masuk kota Tangerang, jatuh dua buah bom mortar, yang satu di atas wuwungan Kelenteng Boen Tek Bio dan yang satunya lagi disamping belakang, tetapi bom itu tidak meledak.



Pembawa pataka Perkumpulan Boen Tek Bio Prosesi 12 Tahunan
17 September 2000

Arak-arakan Prosesi  Pembawa Joli Yang Mulia dan Suci Guan Shi Yin Po Sat
17 September 2000

Siswa-siswi SMK Setia Bhakti turut aktif Prosesi 12 Tahunan Boen Tek Bio
17 September 2000

Aktraksi Drumband dari Sekolah Perkumpulan Strada Kota Tangerang
17 September 2000

Sumber Pustaka :
1. Legenda YMS Kwan Se Im Po Sat – Boen Tek Bio Tahun 2002
2. Sejarah Singkat Boen Tek Bio  17 September 2010
3. Buku Kenangan Prosesi 12 Tahunan YMS Kwan Im Hud Couw – Boen Tek Bio 2012
4. Majalah Suara Baru edisi No.8/ tahun I Cap It Gwee 2551 / Desember 2000